Kritikus Sebut Alur Cerita Transformer 7 Seperti Bikinan ChatGPT

Kritikus Sebut Alur Cerita Transformer 7 Seperti Bikinan ChatGPT

talk-video.com –¬†Transformers: Rise of the Beasts akting Optimus Prime sebagai karakter utama terakhir dalam seri Transformers. Film itu berjarak lima tahun sejak rilisan Transformers yang ketujuh, Bumblebee (2018).

Walaupun begitu, penentuan lama ini berbalik ke komentar negatif dari sebagian kritikus. Komentar tersebut diungkapkan oleh beberapa media agregator yang berwawasan umum, seperti Rotten Tomatoes, yang menilai Rise of the Beasts menginginkan film sesuatu yang tidak cocok bagi banyak pemain.

Transformers 7 telah memperoleh skor tomatometer 55 persen dari 113 ulasan. Ini cukup kontras dengan skor audiens sebesar 88 persen dari 500 lebih penonton yang telah menuliskan rating.

Beragam kritikan dalam ulasan Rise of the Beasts menyatakan bahwa film itu terkenal keterlaluan dalam beberapa aspek. Salah satunya menyatakan bahwa film itu merupakan gambaran jika suatu karya diluncurkan dari teknologi kecerdasan buatan (AI).

Mark Kennedy, di Associated Press, menulis kritik pedas dalam ulasannya. Ia meyakini teknologi chatbot berbasis AI seperti ChatGPT dapat mengerjakan sebuah film yang lebih apik dibandingnya.

“Transformers adalah contoh kasus yang bagus untuk mengetahui perkembangan AI sebagai media penyiaran,” kata Radheyan Simonpillai dari Globe and Mail, Senin (`12/6).

“Penuh kecurigaan. ChatGPT mungkin akan membuat film yang lebih buruk,” kata Kennedy.

Karena CGI yang dominan memotivasi cerita juga ditakuti oleh kritikus. Adam Graham di Detroit News mengatakan Steven Caple Jr. sebagai sutradara akhirnya kelemahan mengembangkan cerita yang berorientasi CGI.

Karena kebijakan studio produksi yang lebih mengutamakan unsur CGI membuat Brett Buckalew menganggap Caple Jr. sulit untuk mengembangkan cerita berporos manusia. Hal itu dinilai memalukan bagi para penyanyi.

Karena Buckalew menyukai produk komputer yang baik, ia memiliki persepsi positif terhadap penulisan cerita bagi para karakter manusia yang gagal memperbaiki seluruh potensi mereka.

“Para sutradara yang sukses pasti memanfaatkan motif sulit seperti yang ditemukan oleh Steven Caple Jr. Kalo tidak bisa tertarik dan semangat menyaksikan kawanan sampah CGI saling tarung, maka adalah tugasnya untuk pulang,” tulis Adam Graham, Senin (12/6).

Proyek ini tidak memberikan Caple Jr. apapun untuk dilakukannya di bidang drama manusia yang intim, dan penokohan yang dangkal menghambat potensi para aktor utama, kata Buckalew.

Amy Nicholson, penulisNYTimes, mengatakan Rise of the Beasts terlihat dieksekusi dengan buruk meski cerita yang disajikan memiliki potensi. Dia juga menyatakan bahwa film itu berakhir dengan kelam dan sosok Beast terungkap di akhirnya.

Sebab kami senang dengan berbagai macam produk digital, kami juga senang untuk bersama founders dan berkomentar serupa terhadap Rise of the Beasts. Seri ini dieksekusi dengan buruk meski cerita yang disajikan memiliki potensi.

Rise of the Beasts menyambutnya sebuah masa yang cerah, ketika robot-robot telah dikenal dengan teknologi canggih dan cepat. Meskipun demikian, unsur manusia masih tetap penting untuk didistribusikan secara terampil pada berbagai macam obyek.

Bermainlah dengan baik meski ada pelipur lara dalam kelompok pemain, karena hasil eksekusi yang diraih masih diperlukan oleh robot kera. Kedatangan robot kera menjadi bukti bahwa sebenarnya blockbuster berbasis computer masih membutuhkan detak jantung, seperti tulis Amy Nicholson.

Banyak orang yang membuat kritik terhadap Transformers: Rise of the Beasts. Salah satunya adalah Michael O’Sullivan dari Washington Post yang memberi pula penilaian positif ke semua filmnya.

Pete Davidson yang memimpin debut Mirage sebagai pengisi suara memperkuat elemen hiburan Rise of the Beasts. Liz Shannon Miller, seorang penulis desainer di Paste Magazine mengatakan bahwa Davidson berhasil memberikan Hip-Hop seni yang lebih baik dari sebelumnya.

CGI adalah pertarungan yang seru, juga menarik sekali. Ada beberapa pemeran yang berbeda, dan kisahnya pun mudah dibaca. Diana O’Sullivan dengan menulis dramatis seperti ini memberikan hak kepada para pemusnika untuk melakukan analisa lebih lanjut terhadap karya itu.

“Pete Davidson sebagai Mirage menghibur blockbuster musim panas,” kata Miller dalam ulasannya di Paste Magazine.

Transformers: Rise of the Beasts adalah sebuah film ketujuh waralaba Transformers yang berusia 1994. Film ini tersedia di New York, Amerika Serikat, dan Machu Picchu, Peru.

Disutradarai Steven Caple Jr., Rise of the Beasts mengungkapkan para bintang baru sebagai pengisi suara, seperti Pete Davidson sebagai Mirage dan Sebastian Maniscalco sebagai Wheeljack, Autobot berlogat Latin yang menemani perjalanan Prime dkk di Peru.

Michelle Yeoh akan tampil sebagai Airazor dan Liza Koshy akan tampil sebagai Arcee, satu Autobot yang bisa berubah menjadi motornya Ducati 916.

Transformers: Rise of the Beast sudah tayang di bioskop Indonesia 7 Juni.

The Boogeyman Baru Rilis, Sutradara Sudah Punya Ide Sekuel

The Boogeyman Baru Rilis, Sutradara Sudah Punya Ide Sekuel

talk-video.com – Film horor yang diadaptasi dari cerita pendek karya Stephen King, The Boogeyman, telah dirilis oleh Sutradara Rob Savage. Rob mengatakan bahwa ia sudah memiliki ide untuk sekuel film tersebut.

Savage berharap film yang rilis pada Minggu (4/6) di Amerika Serikat dan pada 9 Juni di Indonesia bisa berjalan dengan sukses.

“Tanpa ide, kami tidak akan membuat sekuel film itu,” kata Savage. “Ide ini adalah ide yang berbeda-beda pada setiapnya, dan kami sangat senang mendapatkan Ide itu dari Anda.”

Film The Boogeyman yang dibuat oleh Scott Beck, Bryan Woods, dan Mark Heyman mulai dirilis pada tahun 1973. Cerita pendek karya Stephen King yang ditulis itu adalah bagian penting dari film ini.

Savage menyatakan dirinya bersama tim penulis The Boogeyman memilih para pemain dalam film pertama, seperti Chris Messina, Sophie Thatcher, dan Vivien Lyra Blair, karena ragam karakter mereka penting untuk cerita.

Kesan positif yang diperoleh film ini berupa lebih banyak dan kesan tertentu bagi peran dan karakter para pemeran. “Kami ingin membuat dunia Boogeyman sebagai sekuel. Sehingga, saya harap film ini gagal sehingga saya bisa membuatnya lagi,” kata Dia.

Film The Boogeyman berisi cerita kehidupan sekolah menengah Sadie Harper (Sophie Thatcher) dan adik perempuannya, Sawyer (Vivien Lyra Blair), yang masih belum menyadari kegunaan dirinya. Film ini akan membantu mereka untuk melupakan episoden kematian ibunya baru-baru ini.

Di situasi kerugian dan rasa sakit hati yang menggemparkan orang-orang, ayah mereka Will (Chris Messina) selalu mempermainkan diri dalam pekerjaannya sebagai terapis. Bahkan, ia bersamaan memegang jabatan sebagai terapist di rumah sakit itu.

Permasalahan memang tinggi pada saat seorang pasien yang putus asa tiba-tiba muncul di rumah mereka untuk meminta bantuan.

Film ini bercerita tentang sesuatu yang dialami seorang anak remaja. Cerita ini ditampilkan pertama kali pada Maret 1973 di majalah Cavalier dan kemudian dikumpulkan dalam buku koleksi King, Night Shift, pada 1978.

Pendek cerita ini pertama kali dikemas menjadi gambar bergerak pada 1982 oleh Jeff C Schiro dalam bentuk film pendek. Kemudian diangkat juga menjadi pementasan teater, serta dalam film 27 menit oleh Gerard Lough pada 2010.

Scott Beck dan Bryan Woods mengatakan bahwa mereka akan membuat versi berkenaan film panjang cerita ini, dengan bantuan Mark Heyman dalam penulisan skenarionya.

Rob Savage, seorang sutradara yang berpengalaman terbuka dalam bidang film lengkap mengatur proyek film berdurasi 99 menit yang akan tayang secara streaming sore ini. Film tersebut hanya akan tayang di bioskop setelah Disney mendapatkan tanggapan positif dan validasi screening uji coba dari para juru bioskop.